Jangan Salahkan Tiwul

Jangan Salahkan Tiwul

 

Kalau ada warga masyarakat yang tewas setelah makan Tiwul, jangan salahkan Tiwul. Tapi, salahkan sistem atau penyebab yang melatari kemiskinan pemakan Tiwul. Karena, Tiwul sebagai salah satu keragaman kuliner lokal, tidak bermasalah dan cukup banyak peminatnya. Di beberapa daerah seperti Pacitan, Wonogiri, Gunung Kidul, posisi Tiwul sebagai makanan lebih diakrabi masyarakat setempat ketimbang nasi goreng, misalnya.

Bagi penikmat Tiwul, makanan khas lokal ini dipercaya berkhasiat mencegah sakit lambung (maag), menurunkan kadar kolesterol, dan memberikan rasa kenyang yang lebih lama dibanding nasi. Di kabupaten Wonogiri (masa lalu, mungkin kini bagi sebagian masyarakat), Tiwul menjadi makanan utama rakyat hingga pejabat setingkat Bupati. Masyarakat di sana justru merasa belum makan bila belum mengkonsumsi Tiwul. Nasi diposisikan sebagai pelengkap. Atau, dikonsumsi secara bersama bila ada hajatan.

Bagi Begug Poernomosidi, Bupati Wonogiri, mengkonsumsi Tiwul sudah menjadi kebutuhan utama perutnya, seperti orang Papua mengkonsumsi sagu. Bahkan bagi masyarakat non Jawa, Tiwul bisa diterima lidah mereka meski bukan sebagai makanan utama. Di Jawa Barat, makanan serupa Tiwul diberi nama Oyek. Deden, salah satu orang Sunda yang akrab dengan Tiwul, antara lain karena ia akrab bergaul dengan komunitas Jawa, bisa menikmati sepiring Tiwul hangat yang ditemani dengan lauk berupa sayur daun singkong plus sambal, atau tempe goreng, atau urap.

 

Tiwul dan Kemiskinan

Masalahnya, Tiwul dikonsumsi sebagian orang sebagai bagian dari kemiskinan yang menimpanya, akibat harga beras yang mahal, bukan bagian dari keinginan untuk melestarikan keragaman kuliner lokal atau sekedar mengokohkan keberadaan Tiwul sebagai penganan tambahan di luar makanan pokok.

Jadi, masalah utamanya adalah kemiskinan, seperti yang mendera pasangan Jamhamid (45 tahun) dan Siti Sunayah (41 tahun). Dalam sepekan, kebutuhan beras untuk dikonsumsi keluarganya mencapai 16 kilogram, namun ia hanya mampu memenuhi 13 kilogram. Kekurangannya diisi Tiwul. Begitu juga bila dalam keadaan tak mampu beli beras, Tiwul jadi alternatif.

Tiwul adalah singkong olahan. Singkong alias ketela alias ubi kayu yang banyak tumbuh di sekitar kediaman Jamhamid adalah jenis Markonah. Siti Sunayah, istri Jamhamid sudah biasa mengolah singkong menjadi Tiwul. Namun kali ini berbeda. Hari Jum’at tanggal 31 Januari 2010, seperti biasa Siti Sunayah memasak Tiwul untuk sarapan.

Setelah siap, Tiwul buatan Siti Sunayah disantap oleh keluarga Jamhamid, termasuk Fikri (75 tahun) orangtua Siti Sunayah. Sore hari, secara serentak mereka merasa mual dan pusing-pusing, serta muntah-muntah. Tak berapa lama, salah seorang dari mereka, Lutfiana (24 tahun), mengalami kejang-kejang dan tewas. Maka, anggota keluarga lainnya pun dibawa ke rumahsakit. Satu per satu sejak Sabtu 01 Januari 2011 hingga Senin 03 Januari 2011, anggota keluarga Jamhamid tewas. Mereka adalah Abdul Amin (3 tahun), Ahmad Kusriyanto (5 tahun), M. Hisyam Ali (13 tahun), Faridatun Sholeh (15 tahun), dan Saidatul Kusniah (8 tahun).

Konon, Tiwul yang diolah dan dimasak Siti Sunayah tergolong ampas dan tidak diolah secara baik, akibatnya mengandung racun. Pada dasarnya, setiap jenis ketela mengandung racun sianida. Proses pengolahan ketela yang kurang tepat bisa mengakibatkan keracunan.

Sepanjang tahun 2010, sejumlah masyarakat di beberapa daerah mengkonsumsi tiwul karena harga beras mahal, dan tidak menimbulkan masalah apalagi sampai tewas keracunan. Misalnya di Trenggalek, Jawa Timur, warga di pelosok yang tidak mampu membeli beras, kembali mengkonsumsi Tiwul, sambil berharap pemerintah dapat menurunkan harga beras. (kstv.co.id/2010/07/26/beras-mahal-warga-makan-tiwul)

Harga beras kualitas rendah di Trengalek, saat itu (Juli 2010), mencapai Rp 6.500. Bagi masyarakat pelosok Trenggalek, harga beras setinggi itu tak terjangkau, masih jauh lebih murah mengolah ketela menjadi Tiwul. Harga ketela per kilogram di pasaran hanya Rp 350. Bagi masyarakat pelosok Trenggalek yang sebagian besar lahannya ditanami ketela, memproduksi Tiwul dari ketela sendiri jelas jauh lebih murah ketimbang membeli beras.

Bahkan fenomena makan Tiwul karena harga beras mahal, juga terjadi pada tahun 2009, sebagaimana terjadi di Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, Jawa Timur. Masyarakat di sana mengkonsumsi Tiwul karena itu merupakan solusi satu-satunya mengenyangkan perut, akibat harga beras tak terjangkau. Saking miskinnya, sambal menjadi teman setia saat menyantap Tiwul. (Liputan6.com, 12 Oktober 2009).

Masih di Jawa Timur, sejumlah warga yang bermukim di lereng Gunung Wilis, Dusun Krampyang, Desa Kalipang, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, Jawa Timur terpaksa makan Tiwul sebagai menu sehari-hari. Selain karena tidak mampu beli beras, mereka juga tidak dapat bantuan Program Raskin (beras gratis untuk kalangan miskin). Harga beras murah saat itu mencapai Rp 6.000 per kilogram. Sedangkan harga satu kilo gaplek (ketela yang sudah dikeringkan untuk bahan Tiwul) hanya Rp 900 saja.

 

***

 

Sekali lagi, jangan salahkan Tiwul bila ada sejumlah orang yang tewas setelah mengkonsumsi makanan khas ini. Tapi salahkan pembuat kebijakan yang menjadi penyebab rakyat miskin. Sehingga, karena saking miskinnya, ada sejumlah rakyat miskin memproduksi Tiwul dari ampas ketela yang mengandung racun.

 

Ancaman bagi yang banyak kenyang dan tidak amanah

Sesama manusia hendaknya tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Kalau ada yang miskin mestinya dibantu. Dan kalau menjadi pemimpin hendaknya memperhatikan, jangan sampai kebijakannya mengakibatkan orang-orang jadi miskin dan kelaparan.

Tidak sampai jadi pemimpin pun, masalah adanya tetangga yang lapar sedang diri kita kenyang padahal mengetahuinya, maka keimanan kita dinegatifkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

حديث أَنَس بن مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَان وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ . (رواه الطبراني في الكبير وحسنه المنذري وصححه الألباني) .

Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak beriman kepadaku (secara sempurna) orang yang bermalam dalam keadaan kenyang sedang tetangganya lapar di sisinya dan dia tahu dengannya.” (HR At-Thabrani dalam Al-Kabir dan dihasankan oleh Al-Mundziri, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Kenyang sampai glegeken (bersendawa), tanpa dikaitkan dengan adanya tetangga yang lapar saja sudah dikecam dalam Islam.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُفَّ جُشَاءَكَ عَنَّا فَإِنَّ أَطْوَلَكُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُكُمْ شِبَعًا فِي دَارِ الدُّنْيَا

Dari Ibnu Umar dia berkata, “Seorang lelaki bersendawa di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun bersabda: “Tahanlah sendawamu itu di hadapan kami, sesungguhnya orang yang paling panjang laparnya di antara kalian pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak kenyang ketika di dunia.” (HR Ibnu Majah 3341, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah 343, dan riwayat At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini hasan gharib).

Kekenyangan sampai sendawa (gelegeken, Jawa) saja ternyata dalam Islam diancam seperti itu. Walau yang dimakan itu halal. Apalagi kalau yang dimakan itu haram atau bahkan hasil menipu.

Lebih-lebih bila kekenyangannya itu akibat tidak amanah, bahkan menyalah gunakan jabatan misalnya, maka lebih dahsyat lagi ancamannya.

Apabila kondisi miskinnya masyarakat hingga ada yang terpaksa makan tiwul saja dari ampas singkong yang ternyata beracun itu akibat dari curangnya para pemimpin, maka ada ancaman yang sangat berat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, kecuali tak bakalan mendapat bau surga.” (HR Al-Bukhari – 6617).

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia meninggal dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (HR Al-Bukhari- 6618). (haji/tede)

(nahimunkar.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: