Kebebasan Berekspresi: Serangan Budaya (WESTOXICATION = keracunan budaya barat)

Kebebasan Berekspresi: Serangan Budaya

Jika kita cermati, fenomena kebebasan berekspresi, yang antara lain dipropagandakan lewat film-film seperti Virgin, Buruan Cium Gue, Ada Apa Dengan Cinta?, Eiffel… I’m in Love, Asyiknya Pacaran, dan yang sejenisnya sebetulnya tidak lebih merupakan serangan budaya Barat terhadap kaum Muslim. Memang, dalam konteks film-film tersebut, Barat bukanlah pelakunya secara langsung, tetapi sebagai “inspirator”. Sebab, kebebasan berekspresi, yang antara lain dipropaganda lewat film-film itu, tidak lain merupakan buah dari demokrasi, sedangkan demokrasi sendiri bersumber dari ideologi sekularisme yang dianut sekaligus dipropagandakan masyarakat Barat. Hanya saja, Barat lalu memanfaatkan agen-agen mereka dari kalangan Islam, baik yang sadar ataupun yang tidak sadar, untuk melancarkan serangannya itu.

Serangan budaya Barat terhadap kaum Muslim saat ini antara lain berwujud kebebasan seksual (free sex), pergaulan bebas, pamer aurat di depan umum, hedonisme, permissivisme, dan segudang budaya sesat lainnya. Semua itu antara lain diprogandakan lewat film-film di layar lebar maupun di layar kaca (tv).

Serangan budaya Barat ini, disadari atau tidak, bertujuan untuk menghancurkan—secara sistematis—kepribadian kaum Muslim. Mula-mula, hukum-hukum Islam yang terkait dengan kehormatan kaum Muslim disimpangkan. Misal, jilbab dianggap budaya Arab, bukan tuntutan syariat. Lalu Muslimah yang berkerudung dan berjilbab dianggap kuno dan kolot. Setelah itu, kebebasan berbusana yang memamerkan aurat dianggap modern dan maju. Selanjutnya digulirkanlah ide kebebasan berekspresi. Seks bebas dan pergaulan bebas adalah salah satu hasilnya.

Walhasil, serangan budaya Barat pada awalnya sebatas ide, tetapi pada tahap selanjutnya sudah dalam bentuk aksi, baik secara pasif maupun aktif. Secara pasif, misalnya, melalui penyebaran buku-buku, majalah-majalah, dan film-film porno maupun yang “setengah” porno. Singkatnya, masyarakat secara vulgar diberikan pemandangan dan tuntunan yang merusak.

Sedangkan secara aktif, kita menyaksikan banyak public figure secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk berbuat dosa. Mereka berpakaian dan berperilaku tidak islami bukan hanya di sinetron atau di film, namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, masyarakat kita tidak hanya disuguhi pornografi, tetapi juga pornoaksi; bukan hanya di panggung-panggung hiburan, tetapi juga di mal-mal, di pasar-pasar, bahkan di kampus-kampus.

Jika kondisi ini dibiarkan secara terus-menerus maka bisa dipastikan akan terjadi kerusakan iman, kebejatan moral, dan meningkatnya tindakan kriminalitas di kalangan kaum Muslim. Kita bisa menyaksikan betapa banyak seorang bapak memperkosa anaknya, seorang anak memperkosa ibunya, maraknya aborsi akibat hamil di luar nikah, suburnya perselingkuhan, dan fenomena menyimpang lainnya. Semua itu disebabkan masyarakat disuguhi pornografi dan pornoaksi secara terus-menerus, yang mengakibatkan mereka lepas kendali. Sungguh, ini adalah tragedi kemanusiaan yang luar biasa, yang tidak hanya menimpa kaum Muslim saja, tetapi juga seluruh umat manusia.

Mengapa semua ini terjadi? Minimal ada tiga unsur yang mempengaruhi fenomena di atas. Pertama, dari sisi pelaku. Baik artis, sutradara, maupun para pelaku film lainnya telah termasuki paham sesat Barat berupa kebebasan berekspresi yang bersumber dari demokrasi. Mereka beranggapan, apa yang telah mereka lakukan tidak melanggar HAM, karena tidak ada yang dirugikan secara material. Mereka juga beranggapan, bahwa semua itu adalah seni.

Selain itu adalah alasan ekonomi (bisnis). Mereka melakukan semua itu demi uang, tanpa peduli apakah yang dilakukannya itu halal ataukah haram; apakah berakibat baik atau buruk bagi masyarakat.

Selain itu, mereka juga beralasan bahwa mereka sekadar memotret realitas sosial yang ada di masyarakat.

Free sex, pergaulan bebas, dan budaya hewani lainnya menurut mereka—diakui ataupun tidak—adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Padahal sebenarnya, meski fenomena itu ada, itu bukanlah gejala umum di masyarakat. Itu semua adalah penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di lapisan tertentu masyarakat saja. Artinya, semua itu adalah realitas yang jauh dari masyarakat; ia hanyalah penyakit sosial.

Sayangnya, penyakit sosial itulah yang justru ingin disebarkan oleh mereka melalui pornografi dan pornoaksi kepada kaum Muslim.

Kedua, diamnya masyarakat. Para penggagas ide kebebasan berekspresi dan berperilaku biasanya berlindung di balik jargon demokrasi. Ketika mereka menyuguhkan pornografi atau pornoaksi, mereka cukup berkata, “Biarlah masyarakat yang menilai, karena masyarakat sekarang sudah dewasa. “Celakanya, meski sebagian besar masyarakat tidak setuju terhadap fenomena di atas, mereka diam.

Jangankan melakukan aksi menentang keberadaan fenomena di atas, sekadar berkomentar dengan nada sinis saja tidak bisa. Sikap diam masyarakat ini akhirnya dijadikan pembenaran oleh penggagas ide sesat di atas sebagai ’tanda setuju’ terhadap apa yang mereka lakukan, karena tidak ada protes apalagi pemboikotan.

Ketiga, dukungan pemerintah. Pemerintah, secara sadar atau tidak, justru menjadi pendorong utama bagi tumbuh-suburnya penyimpangan sosial di atas. Betapa tidak? Pemerintah telah mengadopsi demokrasi dan HAM sebagai mainstream (arus utama) dalam menata negeri ini. Sebagaimana kita ketahui, yang menjadi alasan utama para penggagas dan pelaku penyimpangan sosial di atas adalah demokrasi dan HAM. Dari sinilah kita bisa mengerti mengapa pemerintah tidak bisa melarang bahkan menghapus praktik-praktik sesat di atas.
Kebebasan Beragama: Serangan Akidah

Kebebasan beragama sesungguhnya adalah serangan Barat terhadap kaum Muslim dari sisi akidah. Melalui ide kebebasan beragama, setiap orang bukan saja dibiarkan untuk memilih agama, tetapi juga untuk tidak beragama. Melalui ide ini, seorang Muslim tidak boleh dihalangi-halangi untuk murtad dan memeluk agama lain.

Melalui ide ini pula, orang-orang non-Muslim, seperti Kristiani, tidak boleh dihalang-halangi untuk membangun rumah peribadatan di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas Muslim. Karena itu, bagi para penganut kekebasan beragama, SKB Dua Menteri di atas dianggap melanggar HAM dan demokrasi, diskriminatif, dan menghambat kebebasan beragama.

Dari fenomena di atas, ide kebebasan beragama ini jelas sangat berbahaya bagi kaum Muslim. Melalui ide ini, tidak mustahil, akan banyak kaum Muslim yang murtad; akan banyak gereja dibangun berdampingan dengan masjid; akan banyak kaum Muslim melakukan doa bersama, merayakan Natalan bersama; dll. Semua ini jelas mengancam akidah kaum Muslim sehingga mengakibatkan semakin lunturnya keimanan mereka. Justru, fenomena seperti inilah yang diharapkan oleh Barat. Ketika keimanan kaum Muslim semakin luntur karena tercerabut dari akarnya, mereka tidak akan lagi berpegang teguh dengan syariat mereka, syariat Islam.

Ketika mereka tidak lagi berpegang teguh dengan syariat Islam, akan semakin mudah bagi Barat untuk menguasai mereka, bahkan menghancurkan mereka. Sebaliknya, dengan itu semua, akan semakin sulit kaum Muslim untuk bangkit dalam upaya mereka meraih kembali posisi sebagai khair ummah (umat terbaik). Inilah yang sebetulnya dikehendaki Barat.
Seruan

Wahai kaum Muslim,

Marilah kita bersama-sama menghadapi serangan Barat yang berupaya untuk menghancurkan Islam. Kita tidak boleh berdiam diri. Sebab, jika demikian, kita akan dianggap menyetujui mereka walau kita sebenarnya menolak. Bukankah Rasul saw. telah bersabda:
«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيمَانِ»

Siapa saja yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika masih tidak mampu, dengan kalbunya. Itu adalah selemah-lemahnya iman. (HR Muslim).

Oleh karena itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengubur gagasan dan sistem demokrasi yang dianut oleh negara dan sebagian masyarakat, sekaligus menggantinya dengan sistem Islam. Marilah kita menata hidup kita berlandaskan syariat Islam yang bersumber dari Pencipta kita, Allah SWT, bukan dari hawa nafsu manusia.
Wahai para ulama,

Sungguh, Anda adalah para pewaris nabi; pewaris bagi upaya tegaknya syariat Islam. Bukankah Rasul saw. dan para nabi yang lain mencurahkan segenap hidupnya bagi tegaknya syariat Islam? Persoalan umat bukanlah hanya seputar masalah ibadah ritual semata. Sungguh, persoalan di atas tidak kalah penting dengan masalah ibadah ritual. Untuk itu, sudah selayaknyalah Anda senantiasa lantang menyerukan syariat Islam. Sebab, syariat

Islam adalah solusi bagi kehidupan. Hanya dengan syariat Islamlah semua persoalan kita akan dapat diatasi.
Wahai para penguasa,

Sungguh, menjaga akidah umat, menerapkan syariat Islam, dan menciptakan nuansa kehidupan Islam adalah tugas dan tanggung jawab Anda. Untuk itu, sudah sepatutnya, dengan kekuatan yang ada di tangan Anda, Anda segera menegakkan sistem Islam dengan cara menerapkan syariat Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan, bukan malah terus mempertahankan sistem sekular yang bersumber dari Barat, yang sudah terbukti banyak menimbulkan kerusakan.

Untuk itu, marilah kita semua kembali pada aturan-aturan Allah, bukan malah terus berpaling darinya. Sebab, Allah SWT telah berfirman:
[وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى]

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha [20]: 124).

Wallâhu a‘lam bi ash-Shawâb.
Sumber: http://www.swaramuslim.net – redaksi –
Hizbut tahrir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: