Apakah Nabi Khidir Masih Hidup ?

Siapakah Nabi Khidir itu ?
Apakah ia nabi atau wali ? Apakah ia masih hidup sampai sekarang ? Banyak orang mengatakan bahwa Khidir adalah seorang nabi yang masih hidup hingga sekarang, sebagian orang shaleh ada yang bisa bertemu atau melihat Nabi Khidir .

Kalau masih hidup, dimanakah beliau? Mengapa sekarang tidak pernah muncul dan memberikan pertolongan kepada manusia dengan ilmunya?

Pertanyaan ini tertuang dalam Kitab “Hadyul Islam fatawi mu’ashirah” olehseorang penanya kepada Syaikh Yusuf Qaradhawi, yang mungkin juga adalah pertanyaan – pertanyaan yang sering timbul di hati kita, siapa sebenarnya Nabi Khidir as. Itu ?

Inilah jawaban Syaikh Yusuf Qaradhawi :

Khidir adalah seorang hamba shaleh, yang kisahnya disebutkan dalam surat Al – Kahfi, ketika beliau menemani Nabi Musa as. Dan memberikan pelajaran kepada Musa. Dalam perjalanan itu Khidir mensyaratkan kepada Musa untuk bersabar, lalu Musa menyanggupinya.

Khidir berkata kepada Musa, “Bagaimana mungkin engkau akan bersabar terhadap segala sesuatu yang pengetahuanmu tidak mampu menjangkaunya ? “

Akhirnya untuk memberikan pelajaran tersebut, Khidir mengajak musa untuk menempuh suatu perjalanan. Khidir memang seorang hamba yang diberi rahmat Allah dan ilmu Allah.

Dalam perjalanan itu, tiba-tiba Musa melihat Khidir melubangi perahu. Melihat keanehan itu, dengan spontan Musa berkata, “Apakah engkau melubanginya agar penumpangnya tenggelam? “dan seterusnya (sebagaimana dikisahkan Allah dalam surat Al-Kahfi).

Musa heran melihat perbuatan Khidir ini, sehingga Khidir menjelaskan kepada nya sebab-sebab ia melakukan hal tersebut. Kemudian akhir pembicaraannya Khidir berkata :
“…dan aku tidak melakukan semua hal itu menurut kemauanku sendiri. Demikianlah takwil sesuatu yang engkau tidak sabar terhadapnya (AL KAHFI ayat 82)

Sebagian orang mengatakan bahwa Nabi Khidir masih hidup sesudah zaman Nabi Musa as hingga zaman Nabi Isa as. Kemudian berlanjut hingga Nabi Muhammad SAW bahkan beliau masih hidup sekarang dan akan terus hidup hingga akhir kiamat. Dari anggapan ini kemudian muncul mitos-mitos dan dongeng-dongeng bahwa Khidir pernah bertemu si Fulan, pernah memberi keluarbiasaan pada si fulan, mengikat janji dengan si itu, dan dongeng-dongeng lain yang sama sekali tidak pernah ada keterangannya dari Allah.

Tidak satupun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Khidir itu masih hidup atau maujud—sebagaimana anggapan orang-orang itu— bahkan sebaliknya terdapat dalil-dalil dari Al Qur’an dan As-sunnah , logika dan ijma ‘ para muhaqqiq bahwa Khidir sudah tidak ada.

Dalam kesempatan ini saya ( Syaikh Yusuf Qaradhwi) akan mengutip beberapa point dari kitab “Al Manarul Munif fil Haditsish Shahih wadh ‘Dhaif” karya Ibnu Qayyim.

Dalam kitab tersebut, Ibnu Qayyim menyebutkan ciri hadits maudhu’ (lemah) yang tidak boleh diterima dalam menetapkan suatu urusan Ad-din. Di antara yang termasuk dalam kategori hadits lemah ialah hadits – hadits yang menceritakan Khidir dan kehidupannya. Semuanya adalah dusta dan tidak ada satupun hadits shahih yang menceritakan kehidupannya. Di antaranya ialah hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah berada dalam masjid dan beliau mendengar suara dari belakang, maka orang-orang melihatnya, ternyata ia adalah Khidir. Juga hadits yang menyebutkan bahwa Khidir bertemu Ilyas setiap tahun. Demikian juga dengan hadits yang menyebutkan bahwa Malaikat Jibril, dan Malaikat Mikail berkumpul bersama Khidir di Arafah.

Ibrahim Al-Harbi pernah bertanya tentang umur Khidir yang dikatakan bahwa dia masih hidup hingga sekarang, Ibrahim menjawab : “Tidak ada yang menyampaikan hal ini kepada orang banyak kecuali setan”.

Imam Bukhari pernah ditanya, apakah Khidir dan Ilyas masih hidup di dunia? Beliau menjawab : “Bagaimana hal ini bisa terjadi? Sedang Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
“Tidak akan ada seorang pun yang masih hidup pada penghujung seratus tahun lagi di antara orang-orang yang hidup di muka bumi pada hari ini”(HR Asy Syaikhani)

Banyak Imam yang ditanya hal yang sama tentang Nabi Khidir, mereka memberi dalil dalam Al Qur’an :
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad) , maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal ? (AL- ANBIYA ayat 34)

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya mengenai Nabi Khidir, beliau menjawab: “Seandainya Khidir masih hidup, maka wajib baginya mendatangi Nabi Muhammad SAW, berjuang bersama beliau SAW, serta belajar bersama beliau. Sebab Nabi Muhammad pernah bermunajat pada waktu perang Badar :

“Ya Allah, jika Engkau binasakan golongan Islam ini , niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi”

Jumlah pasukan saat itu sebanyak 313 orang. Nama-nama mereka sangat dikenal, begitu juga nama-nama bapak-bapak mereka dan kabilah mereka. Namun tidak ada satu diantara mereka yang bernama Khidir. Lalu dimana Nabi Khidir saat itu ?

Al Quran dan As-SUnnah serta pendapat para Ulama muhaqqiq tidak membenarkan bahwa Nabi Khidir masih hidup sebagaimana anggapan sebagian orang. AL Qur’an mengatakan bahwa tidak ada satu pun orang yang hidup abadi (Lihat lagi QS Al Anbiyya ayat 34)

Jika Khidir itu manusia, dia tidak kekal di dunia, karena hal itu telah dinafikan oleh Al Quran dan As-sunnah . Dan seandainya beliau masih hidup, pasti ia akan datang kepada Nabi Muhammad SAW sebab beliau pernah bersabda :
“Demi Allah, jika Musa as masih hidup , maka tidak ada alasan baginya melainkan pasti mengikutiku ( HR Ahmad dari Jabir bin Abdullah)

Kalau Khidir itu seorang Nabi, dia tidak lebih utama dari Nabi Musa, dan jika seorang wali, maka tidak lebih utama dari Abu Bakar Ashsiddieq.

Apakah hikmah nya hidup dalam usia sepanjang ini—sebagaimana anggapan mereka–? Apakah gunanya hidup di lorong-lorong gua-gua dan gunung-gunung? Bukankah itu semua tidak ada faedahnya , baik dari sudut pandang syar’I dan aqli .

Dibuatnya cerita-cerita seperti itu hanyalah karena kecenderungan manusia takjub kepada keanehan dan keajaiban-keajaiban , dongeng dan mitos yang mereka gambarkan dan khayalkan sendiri. Cerita mereka kemas dalam bentuk kemasan agama agar dipercaya sebagai bagian dari agama, padahal sama sekali tidak ada keterangan agama yang berkaitan dengannya.


Jika pertanyaan Khidir itu wali ataukah Nabi , maka para ulama berbeda pandangan dan pendapat. Tetapi lebih kuat mengatakan bahwa beliau adalah NABI, sebagaimana diisyaratkan dalam surat Al-Kahfi.
“…Tidaklah aku melakukan hal itu menurut kemauanku sendiri “( AL KAHFI ayat 82)

Perkataan ini menunjukkan bahwa beliau melakukan perbuatannya bersama Musa itu sesuai dengan perintah Allah berdasarkan wahyu dan bukan menuruti kemauannya sendiri, apalagi hawa nafsu.

Semoga penjelasan dari Syaikh Yusuf Qaadhawi ini bermanfaat dan kita hendaknya bisa lebih bijaksana dalam hikmah kisah hidup Nabi Khidir bersama Nabi Musa as, bahwa janganlah terlalu cepat dalam menyimpulkan sesuatu tanpa hujjah dan dalil yang kuat dan hendaknya bersabar dalam menghadapi hidup serta tetap berpikir positif dalam menghadapi perjalanan hidup seperti halnya Nabi Musa yang dihadapkan dengan perbuatan-perbuatan Nabi Khidir yang belum masuk nalar nya Nabi Musa as..


Karena ALLAH PASTI PUNYA HIKMAH BESAR BUAT KITA ATAS SEMUA QADHA DAN QADHARNYA.

Wallahu ‘alam bishawab

author; unknown

sumber;

Catatan group fb: Satu Hari, Satu Ayat Qur’an

http://www.eramuslim.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: