WALISONGO, BENARKAH PERNAH ADA ATAU HANYA MITOS ?

WALISONGO, BENARKAH PERNAH ADA ATAU HANYA MITOS ?

17 Maret 2010 — ibnu fauzy

Pernah dengar cerita Walisongo, baca bukunya atau penah nonton film walisongo di TV ? Benarkah Walisongo pernah hidup ataukah cuma legenda atau mitos belaka..?
Waktu kecil, penulis pernah lihat film walisongo di TV, namun belum melihat kejanggalan-kejanggalan. Sampai akhirnya terpikirkan olehku kejanggalan dalam film itu, di antaranya :
1. dalam film itu 9 wali berkumpul dalam suatu tempat membahas suatu masalah. padahal kalao kita mencari silsilah mereka, maka dapat diketahui bahwa wali A adalah anak wali B, wali B punya anak lagi wali C. bahkan ada wali yang hidup tidak sezaman (tidak pernah bertemu). namun anehnya dalam film tsb mereka seolah2 berumur sama, sudah beruban semua.
2. yang paling parah adalah kisah sunan Kalijogo, dimana dikisahkan sang sunan bersemedi dipinggir kali (sungai), berhari-hari sampai lumuten (tumbuh lumut ditubuhnya), hanya untuk diterima jadi murid wali lain. dan ada ritual peresmian menjadi wali, dengan diubur.

Keanehannya adalah : kalau benar sunan kalijogo berhari-hari semedi di pinggir kali maka dia tidak sholat, kalau buang air ga cebok dll. maka justru ini menyimpang dari ajaran Islam yag lurus.
Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja hukumnya kafir, ini berarti ia telah melakukan kekufuran yang besar menurut pendapat yang paling benar di antara dua pendapat ulama, yang demikian ini jika orang tersebut mengakui kewajiban tersebut. Jika ia tidak mengakui kewajiban tersebut, maka ia kafir menurut seluruh ahlul ilmi, demikian berdasarkan beberapa sabda Nabi shollallaahu’alaihi wasallam:

رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad.”. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (5/231), at-Tirmidzi, kitab al-Iman (2616), Ibnu Majah, kitab al-Fitan (3973) dengan isnad shahih.

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ.

“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”[Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab al-Iman (82)]

اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.

“Perjanjian (pembatas) antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.”[Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (5/346) dan para penyusun kitab Sunan dengan isnad shahih, at-Tirmidzi, kitab al-Iman (2621), An-Nasa’i, kitab ash-Shalah (1/232), Ibnu Majah, kitab Iqamatus Shalah (1079)

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ
“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….” (Al-Muddatstsir: 42-43)

3. cerita tentang walisongo jika diteliti tidak ada sand yang shohih. semuanya berdasarkan katanay dan konon. sehingga keaslian ceritanya sangat diragukan.

Abdullah bin Mubarak (wafat th. 181 H) berkata : “sanad ini dari agama, kalau seandaianya tidak ada sanad, maka orang akan berkata sekehendaknya apa yang ia mau“. (syarah Muslim Nawawi 1/87)

Imam Muslim meriwayatkan di dalam mukaddimah shahihnya dari Ibn Sirin rahimahullah, yang berkata, “Dulu mereka tidak pernah mempertanyakan tentang sanad, namun tatkala terjadi fitnah, mereka mengatakan, ‘Tolong sebutkan kepada kami para perawi kalian.!’ Lalu dilihatlah riwayat Ahlussunnah lantas diterima hadits mereka. Demikian pula, dilihatlah riwayat Ahli Bid’ah, lalu ditolak hadits mereka.

Entah siapa yang memulainya, yang jelas sosok para penyebar agama Islam yang baik itu tiba-tiba berubah menjadi tokoh dunia persilatan dengan beragam ilmu kedigjayaan.
Sebagai tokoh penyebar agama Islam, para da’i itu tentu sangat tidak layak untuk digambarkan bagai tokoh dagelan sakti mandraguna. Kita bukan bangga dengan penggambaran yang keliru itu, tetapi kita malah bersedih hati. Kita cenderung berpendapat bahwa rekaan-rekaan seperti ini justru merupakan pembunuhan karakter para tokoh yang sudah berjasa menyebarkan agama.

untuk itu perlu diteliti kembali keabsahan cerita walisongo, agar tidak menyesatkan umat. banyak umat yang terssat akibat kisah kurafat dan tahayul dari wali sanga, sampai-sampai banyak yang ziarah ke makam atau petilasan mereka dengan mengharap berkah dan berdo’a disana.

Sungguh ini adalah kesyirikan yang nyata

Seandainya para wali itu benar ada, bukan berarti kita memujanya…

Seandainya para wali itu benar ada, dan mereka berada diatas alhaq, niscaya mereka akan mengingkari pengkultusan terhadap mereka

Dan orang-orang yang kalian seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui”. (QS. Fathir : 13-14)

Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. Al-Ahqaf : 4-6)

http://ibnufauzy.wordpress.com/2010/03/17/walisongo-benarkah-pernah-ada-atau-hanya-mitos/

http://ibnufauzy.wordpress.com/2010/03/17/walisongo-benarkah-pernah-ada-atau-hanya-mitos/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: