Tidak boleh Allah disifati kecuali menurut apa yang telah Dia sifatkan untuk Diri-Nya

Sifat Allah SWTdiketahui hanya berdasarkan pada wahyu, sedang akal tidak mempunyai peran di dalamnya. Syekh Utsaimin, ulama Salaf masa kini (wafat Syawal 1421H di Saudi Arabia) menegaskan: “Untuk itu, kita tidak menetapkan sesuatupun sifat untuk Allah kecuali bila ada dasarnya dari Kitab dan Sunnah.

Imam Ahmad –rahimahullah—mengatakan: “Tidak boleh Allah disifati kecuali menurut apa yang telah Dia sifatkan untuk Diri-Nya atau menurut apa yang telah disifatkan Rasulullah SAW, tidak boleh melanggar Al-Qur’an dan Hadits.” (Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Al-Qawaa’idul Mutslaa fii Shifaatillaahi wa Asmaaihil Husnaa, terjemahan M Yusuf Harun MA, Kaidah-kaidah Utama Masalah Asma’ dan Sifat Allah, CV MUS Jakarta, cetakan I, 1419H/ 1998, p 51.)

=========================

Imam-imam Salaf dan kaidah penting bagi Salaf

Imam-imam yang dianggap sebagai imam Salaf di antaranya:

Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Al-Bukhari, Imam Abu Ja’far At-Thahawi Al-Hanafi, Imam Ibn Abi Zaid Al-Qirawani Al-Maliki, Imam Ibnu Taimiyah, dan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab.

Kaidah yang penting dalam kajian Aqidah, menurut Salaf adalah:

1. Al-Qur’an sebagai sumber dalil Naqli dan Aqli.

2. Mengikuti Salafus Shalihin dalam menafsirkan nas-nash.

3. Beriman kepada masalah-masalah ghaib terbatas pada berita yang benar/ sah (khabar shadiq).

4. Pembagian tauhid kepada Rububiyyah dan Uluhiyyah dan kewajiban meyakini keduanya.

5. Mengisbatkan (menetapkan) Asma wa shifat Allah, dan mengakui maknanya tanpa mencoba membicarakan kaifiyatnya.

6. Menolak takwil.

7. Membatasi akal dari memikirkan yang bukan bidangnya.

8. Membatasi makna mutasyabbih dan menjelaskan bahwa Qur’an itu seluruhnya jelas dan dapat ditafsiri.

9. Pengaruh sebab-sebab alam bagi akibat yang ditimbulkannya dengan izin Allah.

10. Baik dan buruk dalam af’al adalah bersifat aqli dan syar’i.

11. Tidak boleh mengkafirkan seorang muslim karena perbuatan dosa yang diikhtilafkan dan bukan dosa syirik besar karena kesalahan.

[Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki, dasar-dasar Aqidah Para Imam Salaf, 1416H, p 6-7]

=======================================

Allah berada di atas langit ke-7, di atas ‘Arsy (bantahan bagi yang berkata bahwa Allah ada dimana-mana, atau Allah tidak bertempat)

Menurut Salaf, Allah itu Maha Tinggi di atas langit sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan tingginya makhluk, karena sifat Mahatingginya itu adalah sifat yang sempurna bagi Allah. Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam kitabNya dan sabda Rasulullah saw, sedang fitrah dan cara berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan tersebut.

Al-Qur’an, hadits shahih, naluri dan cara berfikir yang sehat telah mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy.

1. Firman Allah:

الرحمن على العرش استوى. (طه: 5).

Allah yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy.” (Thaha:5).

Pengertian ini sebagaimana diriwayatkan Bukhari dari beberapa Tabi’in.

2. Firman Allah:

“Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di langit? Bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu….” (Al-Mulk: 16).

Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan “Yang di langit” adalah Allah, sebagaimana dituturkan dalam Kitab Tafsir Ibnul Jauzi.

3. Firman Allah:

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka….” (An-Nahl: 50).

4. Firman Allah tentang Nabi Isa ‘as.

“Tetapi Allah mengangkatnya kepada-Nya….” (An-Nisa’: 158).

Maksudnya, Allah menaikkan Nabi Isa ke Langit.

5. Rasulullah saw mi’raj ke langit ke tujuh dan difirmankan kepadanya oleh Allah serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

6. Rasulullah saw pernah menanyai seorang budak wanita: “Di mana Allah?” Jawabnya: “Di langit” Rasulullah bertanya lagi: “Siapa saya?” Dijawab lagi: “Kamu Rasul Allah.” Lalu rasulullah bersabda: “Merdekakanlah dia, karena dia seorang mukminah.” (Riwayat Muslim).

======================================

Ma’iyatullah (kebersamaan Allah dengan makhluk)

Mengenai ma’iyatullah atau kebersamaan Allah, Salaf menjelaskan:

Adapun firman Allah:

وهو معكم أينما كنتم

“….dan Dia (Allah) selalu bersamamu di mana kamu berada.” (QS Al-Hadiid: 4) maksudnya bahwa Dia bersama kita: mengetahui, mendengar, dan melihat kita di manapun kita berada. Apa yang disebutkan sebelum dan sesudah ayat ini menjelaskan hal tersebut, seperti keterangan dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Bahwa hakekat pengertian kebersamaan Allah dengan makhluk tidak bertentangan dengan keberadaan Allah di atas ‘arsy (diatas langit), karena perpaduan antara kedua hal ini bisa terjadi pada makhluk. Contohnya seperti dikatakan: “Kami masih meneruskan perjalanan dan bulan pun bersama kami.” Ini tidak dianggap kontradiksi dan tak seorangpun memahami dari perkataan tersebut bahwa bulan turun di bumi. Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagi Allah –sekalipun berada di atas ‘arsy- tentu lebih patut lagi, karena hakekat pengertian ma’iyah (kebersamaan) tidak berarti berkumpul dalam satu tempat.

===================================================

Tentang Allah dekat


Ulama Salaf menjelaskan tentang Allah dekat sebagai berikut:

Firman Allah SWT:

“…Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS 50: 16).

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu…” (QS 56:85).

Bahwa “dekat” dalam kedua ayat ini ditafsirkan dengan dekatnya para malaikat. Itu bukanlah perubahan nash dari dhahirnya, bila benar-benar dimegerti. Karena pada ayat pertama dilanjutkan: “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat…” itu menunjukkan bahwa yang dimaksud “dekat” yaitu dekatnya dua malaikat pencatat amal perbuatan.

Sedangkan ayat kedua, kata “dekat” di sinipun muqayyad, dibatasi dengan situasi saat pencabutan nyawa, di mana pada saat itu datanglah malaikat kepada orang yang hendak dicabut nyawanya. Berdasarkan firman Allah SWT:

“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajiban.” (QS 6:61).

Kemudian firman Allah:

“….tetapi kamu tidak melihat.” (QS 56:85).

Merupakan bukti nyata bahwa mereka itu adalah malaikat, sebab ayat tersebut menunjukkan bahwa dzat yang dekat ini berada di tempat yang sama tetapi tidak terlihat oleh kita. Dan ini mendukung penafsiran di atas bahwa yang dimaksud dengan “dekat” ialah dekatnya malaikat, dengan alasan hal ini mustahil bagi Allah SWT. [Al-‘Utsaimin, Kaidah-kaidah Utama…, hal 104-105]

Mengapa Allah menisbatkan “dekat” ini kepada diri-Nya, dan apakah ada ekspresi semacam ini sedang yang dimaksud adalah malaikat?

Allah SWT menisbatkan dekatnya para malaikat ini kepada diri-Nya karena dekatnya mereka berdasarkan perintah-Nya. Mereka adalah bala tentara dan utusan-utusan-Nya. Dan ekspresi semacam ini dengan yang dimaksud malaikat pun ada, seperti firman Allah:

فإذا قرأناه فاتبع قرأنه.

“Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (QS 75:18).

Maksud dari ayat ini bahwa Jibril membacakan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. Padahal Allah SWT menisbatkan pembacaan ini kepada diri-Nya. Namun, karena Jibril membacakannya kepada Nabi SAW berdasarkan perintah Allah, maka benarlah bila pembacaan itu dinisbatkan Allah kepada diri-Nya [Al-‘Utsaimin, Kaidah-kaidah Utama…, hal 105] . Demikian pula ayat 74 Surat 11. Ibrahim bersoal jawab dengan malaikat-malaikat tentang kaum Luth. Sedang kalimatnya yujaadilunaa (dia bersoal-jawab dengan Kami).

==============================================

Dikutip dari buku karya Hartono Ahmad Jaiz yang berjudul:
Bila Kiyai Menjadi Tuhan, Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional

download ebooknya di http://www.pakdenono.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: