Politik Yes, Agama Yes

Edisi 189/Tahun ke-5 (5 April 2004)
Kalo kamu merhatiin tayangan iklan di televisi waktu musim kampanye parpol kemarin, ada pesan yang disampaikan Ja-ringan Islam Liberal (JIL), begini pesannya: “Mau berpolitik? Jangan bawa agama deh!”. Nah, iklan ini tentunya direspon beragam sama pemirsa. Ada yang menganggap bahwa pesan itu benar, ada juga yang menolak mentah-mentah, pun yang cuek juga nggak keitung jumlahnya.

Sobat muda muslim, kenapa kita bahas masalah ini? Karena kita punya kepedulian memahamkan kamu semua tentang persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya lagi tentang Islam. Sebagai remaja, tentunya wajib ngeh juga dong dengan urusan politik. Jangan cuma faqih fis seleb aja. Betul?

Jangan biarkan orang-orang menuduh remaja buta politik. Jangan mau juga kamu dianggap sebagai kaum yang cuma ikut-ikutan urusan yang kerap hanya bisa dimainkan orang dewasa. Kini saatnya mengubah imej bahwa remaja bukan kaum pinggiran ketika ngobrolin soal politik. Sejatinya, kita bisa terlibat dan melibatkan diri dalam aktivitas politik, lho.

Sobat muda muslim, sayangnya, kini muncul pula pemahaman keliru di antara kaum muslimin tentang politik. Ada yang sama sekali menjauhinya, dengan alasan bahwa politik itu kotor, najis, dan wajib dihindarkan dari menu sehari-sehari pergaulannya. Sangat boleh jadi, kelompok ini sudah putus asa ketika melihat perkembangan bahwa politik seringkali cuma sebagai alat untuk menuju tangga kekuasaan sambil sikut sana jegal sini. Paling nggak, itu gambaran aktivitas politik yang bisa dilihat saat ini. Menyebalkan dan norak, memang.

Sebagian lagi memilih terjun dalam aktivitas politik praktis seperti yang kemarin dan hari ini, juga mungkin esok kita saksikan. Mereka ikut pemilu, kampanye, dan akhirnya kalo mujur bisa menempatkan wakil-wakilnya di DPR atau MPR. Sayangnya, ini juga seringkali tulalit banget. Pikirnya, aktivitas politik cuma urusan kekuasaan belaka. Padahal nggak gitu deh. Karena aktivitas politik begitu luas, mulai dari urusan pemerintahan, hukum, tatanegara, peradilan, pendidikan, sosial, budaya, ekonomi dan sejenisnya. Pokoknya, semua tindakan un-tuk mengatur urusan rakyat, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Itu sebabnya ketika kita udah peduli terhadap urusan kaum muslimin di negeri ini dan juga di belahan dunia lain, itu udah bisa disebut berpolitik. Dan perlu kita tegasin lagi deh, bahwa politik kudu sejajar dengan agama. Pendek kata, seiring sejalan. Bisa dibilang agama dan politik ini adalah “Duet Maut” untuk menyelesaikan problem kehidupan manusia. Dan, cuma Islam yang mampu melakukannya. Yang lain? Lewaaaaat!

Jadi, siapkan sabuk pengaman, kita akan tancap gas ngomongin soal yang satu ini. Pembahasan yang dijamin asyik punya dan kamu wajib ngeh. Jangan sampe kamu jadi objek penderita terus. Emang enak jadi pecundang? Emang enak dibodohin sama iklan yang menyesatkan itu? Emang kamu rela bin pasrah kalo agama kudu dijauhkan dari kehidupan politik? Kita kan bukan kaum sekuler. Kita remaja muslim yang berusaha menjadi benar dalam memahami ajaran agama. Kita kabarkan kepada dunia, bahwa kita generasi Islam yang akan menjadi “haarisan amiinan lil Islami” alias penjaga (Islam) yang terpercaya.

Buah sekularisme

Majalah Tempo edisi 29 Maret-4 April 2004 lalu menggeber laporan utama tentang partai Islam. Salah satu artikelnya yang menarik adalah “Partai Islam Yes, Asas Islam No”. Ketika menyikapi fenomena partai Islam dan masyarakat Indonesia saat ini, majalah mingguan tersebut menuliskan, “Bila seku-larisasi menjadi niat Nurcholis Madjid ketika mempopulerkan slogan ‘Islam yes, partai Islam no’ lebih dari 30 tahun lampau, saat ini mungkin maksud itu telah kesampaian. Masyarakat Indo-nesia tampaknya makin mempercayai bahwa urusan agama tak sama dengan urusan politik.

Buktinya aja sekarang, meski sudah ada yang mulai merintis mendirikan partai Islam, tapi masyarakat masih belum melirik sepenuh-nya parpol berasas Islam. Selain masih setia dengan partai berideologi sekular, banyak pihak yang bikin kisruh ‘manas-manasin’ dengan bikin pernyataan bahwa “kalo mo berpolitik, jangan bawa agama”. Hhh.. sekularisme udah menjadi bagian dari hidup masyarakat kita. Celaka!

Sobat muda muslim, Islam adalah agama yang nggak bisa diceraikan dari politik (baca: negara). Itu sebabnya, Imam al-Ghazali berkata: “Karena itu, dikatakanlah bahwa aga-ma dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.” (dalam kitabnya al-Iqtishad fil I’tiqad hlm. 199)

Benar banget pernyataan ini. Islam tanpa politik (negara) akan mudah lenyap, begitu pula, politik tanpa agama, niscaya akan mudah roboh. Sejarah udah ngebuktiin tuh, kalo agama dipi-sahin dari politik, alamat ancur-ancuran deh. Nah, ini yang namanya sekularisme. Bahaya!

Kamu bisa rasakan sendiri bahwa hidup dalam sistem sekular seperti sekarang benar-benar merana. Ketika agama nggak boleh ikut campur ngurusin kehidupan bernegara dan bermasyarakat, maka banyak orang berbuat sesukanya atas nama kebebasan. Mau jadi gay or lesbian nggak boleh dilarang. Kamu yang puteri milih pake jilbab dan kerudung syukur, milih telanjang pun nggak dilarang. Badannya diukir tatto monggo wae , rambutnya dipermak gaya anak punk silakan. Sholat boleh, nggak sholat pun jangan ada yang ngelarang. Walah, semau gue tuh!

Itu sebabnya, para pembela dan pejuang sekularisme sering bertindak melawan kebebasan itu sendiri. Terutama bila ada yang ingin menyuarakan Islam. Intinya, boleh berbuat sesukanya asal jangan ngomongin Islam, apalagi Islam ideologi. Kalo dibiarkan, maka sama dengan bunuh diri bagi kaum pembela seku-larisme. Maka, setiap ada gerakan ke arah menggabungkan Islam dengan politik (baca: islam ideologi) wajib dicegah. Kenapa?

Menurut cara pandang ideologi kapitalis-me, Islam ideologi jelas merupakan ancaman baginya. Sebab ideologi kapitalisme bertumpu pada ide dasar sekulerisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan ( fashl al din ‘an al hayah ). Maka bagi ideologi kapitalisme, agama adalah masalah pribadi antara individu dengan tuhannya. Agama nggak dibenarkan turut cam-pur dalam pengaturan kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Itu sebabnya, Islam dalam bentuk ideologi jelas merupakan ancaman terhadap eksistensi sekulerisme, ‘akidahnya’ kapitalisme itu, bro. Sebab Islam dalam bentuk ideologi berarti mengharuskan adanya peran agama (Islam) dalam seluruh tatanan aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tanpa kecuali.

Menghadapi ancaman ini, para penganut kapitalisme melakukan berbagai langkah, antara lain, melakukan manipulasi dengan me-nyebarkan opini bahwa Islam adalah agama, bukanlah ideologi. Islam diilusikan seperti agama Kristen atau Katolik yang harus terlepas dari kekuasaan dan pemerintahan. Memandang Islam sebagai ideologi, kata mereka, adalah suatu apologi yang muncul karena perasaan inferior di bawah dominasi dan imperialisme Barat. Ckckck.. sampe segitunya.

Dikatakan pula bahwa konsep kenegaraan dalam Islam itu nggak ada, karena dalam al-Quran tidak ada kata “daulah” (negara). Jadi dalam persepsi para penganut kapitalisme, Islam ideologi itu mengada-ada dan hanya utopia. Walah, nekatz tenan rek!

Sobat muda muslim, para pejuang dan pembela kapitalisme-sekularisme juga getol bener bikin opini miring tentang Islam, khususnya Islam ideologi. Itu sebabnya para penganut kapitalisme berusaha membuktikan ancaman ideologi Islam dengan berbagai data dan bukti sejarah. Tapi informasinya yang udah dimodifikasi sesuai kepentingannya.

Jadi, mereka se-ngaja menutupi prinsip bahwa Islam nggaklah bersumber dari peris-tiwa sejarah, melain-kan bersumber dari nash-nash al-Quran dan as-Sunnah. Maka mereka mengeksploitir penyimpangan-penyim-pangan yang terjadi dalam sejarah Islam, untuk membuktikan betapa buruk akibat yang terjadi kalo Islam memegang kekuasaan. Misalnya terbunuhnya tiga khalifah (Umar, Utsman, dan Ali) dari empat Khulafa‘ur Rasyidin. Atau perilaku sebagian khalifah yang menyimpang dari Islam, seperti perilaku Sultan Muhammad III (1595-1603 M), pengganti Murad III, seorang khalifah dalam masa Utsmaniyah, yang membunuh semua saudara laki-lakinya berjumlah 9 orang dan menenggalamkan janda-janda ayahnya sejumlah 10 orang demi kepentingan pribadi. (Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam , hlm. 155)

Tapi mereka sengaja menutupi prestasi gemilang ketika Islam ideologi diterapkan. Mereka khawatir banget dengan kebangkitan Islam, maka salah satu caranya, mereka berusaha menebar opini bahwa politik kudu dijauhkan dari agama. Pesan kita: jangan percaya euy!

Agama dan negara: Wajib kompak!

Sobat muda muslim, menurut ‘akidah’ Kapitalisme, model hubungan agama-negara dapat disebut sebagai hubungan yang separatif, yaitu suatu pandangan yang berusaha memi-sahkan agama dari arena kehidupan. Agama hanya berlaku dalam hubungan secara individual antara manusia dan tuhannya, atau berlaku secara amat terbatas dalam interaksi sosial sesama manusia. Agama nggak terwujud secara institusional dalam konstitusi atau perun-dangan negara, namun hanya terwujud dalam etika en moral individu-individu pelaku politik. Lihat aja kampanye partai Islam sekarang, sudahlah nggak tegas mengagendakan pene-gakkan syariat Islam, eh malah lebih menyukai ketenangan dan kelem-butan yang sekadar sifat moral belaka. Semoga saja sikap itu nggak berlanjut.

Sementara Bro , akidah Islamiyah adalah iman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari Akhir, dan qadar (taqdir) Allah. Akidah ini merupakan dasar ideologi Islam yang darinya terlahir berbagai pemikiran dan hukum Islam yang mengatur kehidupan manusia. Akidah Islamiyah menetapkan bahwa keimanan harus terwujud dalam keterikatan terhadap hukum syara’, yang cakupannya adalah segala aspek kehidupan, dan bahwa pengingkaran sebagian saja dari hukum Islam (yang terwujud dalam sekularisme) adalah suatu kebatilan dan kekafiran yang nyata. Hati-hati ye, Allah Swt berfirman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikat-nya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan..” (QS an-Nisaa` [4] : 65)

Firman Allah lainnya: “Barangsiapa yang tidak memberi keputusan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS al-Maa`idah [5]: 44)

Jadi, dengan penjelasan ini, seluruh hukum Islam tanpa kecuali harus diterapkan kepada manusia, sebagai konsekuensi adanya iman atau akidah islamiyah. Dan karena hukum-hukum Islam ini nggak bisa diterapkan secara sempurna kecuali dengan adanya sebuah institusi negara, maka keberadaan negara dalam Islam adalah suatu keniscayaan.

Itu sebabnya, model hubungan agama-negara dalam pandangan Islam dapat diistilahkan sebagai hubungan yang positif, dalam arti bahwa agama membutuhkan negara agar agama dapat diterapkan secara sem-purna dan bahwa agama tanpa negara adalah suatu cacat yang akan menimbulkan reduksi dan distorsi yang parah dalam beragama ( cieeee bahasane bro! ). Buktinya, masyarakat kita lebih suka mengamalkan gaya hidup permisif dan hedonis. Agama? Ke laut aje!

Jadi, agama tentunya nggak dapat dipi-sahkan dari negara. Agama mengatur seluruh aspek kehidupan melalui negara yang terwujud dalam konstitusi dan segenap undang-undang yang mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Inilah hubungan serasi antara politik (negara) dan agama. Islam ideologi euy! Oke deh, mulai sekarang kita kudu berani mengatakan, “politik yes, agama juga yes” [solihin, berbagai sumber]

http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/politik-yes-agama-yes.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: