Imam Bukhori Dalam Berdagang

Pernah suatu ketika sejumlah barang dibawa kepada Imam Bukhori. Barang itu dikirim oleh Abu Hafsh yang merupakan salah seorang murid istimewa dari ayah beliau. Sekelompok pedagang berkumpul ke tempat beliau dalam rangka mencari ma’isyah. Mereka meminta barang itu dengan memberikan keuntungan kepada beliau sebesar lima ribu dirham. Beliau mengatakan kepada mereka, “Baik, kalian boleh pergi dahulu malam ini.”
Keesokan harinya, datanglah sekelompok pedagang yang lain. Mereka meminta barang tersebut dari beliau dengan memberi keuntungan senilai sepuluh ribu dirham.

Tetapi beliau menolaknya seraya mengatakan, “Tadi malam aku sudah berniat memberikannya kepada pedagang-pedagang yang pertama.” Akhirnya barang tadi diberikan kepada kelompok yang pertama dan beliau berkata, ”Saya tidak suka membatalkan niatku sendiri.”

Jadi Imam Bukhori Rohimahullah ingin selalu mengutamakan orang lain dalam dirinya, serta menjauhkan diri dari rasa cinta terhadap harta yang mana ini termasuk bagian dari sifat yang tidak baik.

Pada masa sekarang sering kita menyaksikan orang yang banyak mengumpulkan harta kemudian ia belum sempat menikmatinya dan malah meninggalkannya untuk orang lain dengan tidak menyisakan untuk dirinya sendiri. Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair:

Ibarat ulat sutera, yang ia bangun justru merobohkan dirinya


Sementara selain dia, mengambil manfaat dari yang ia bangun
Semisal pada masa sekarang ini sebagian dari kita banyak membeli barang-barang mewah, seperti mobil, motor dan lain sebagainya namun kemudian mereka malah disibukkan dengan barang-barang tersebut. Mereka disibukkan dengan perawatan, pembelian assessories barang mewah (mobil, motor dan lain sebagainya), penggantian bagian barang mewah tersebut yang rusak, dan lain sebagainya. Sehingga berkuranglah waktunya didunia.

Selain itu sebagian yang lain berusaha dengan keras untuk menumpuk-numpuk harta, yang tidak dipergunakan untuk agamanya. Sampai kemudian harta tersebut tidak memberikan faedah sama sekali bagi dirinya ketika hari kiamat…

Maka perhatikanlah bagaimana sikap-sikap para ulama terdahulu seperti Imam Bukhori ini dalam menyikapi dunia, mereka senantiasa bersungguh-sungguh mengejar kehidupan akhiratnya, sementara kehidupan dunianya tidak mereka lupakan. Sedang kita saat ini malah berupaya sebaliknya, senantiasa bersungguh-sungguh mengejar kehidupan dunia, sementara kehidupan akhirat kita lupakan atau berupaya seadanya….

Sumber: As-Siar (VI/290) dan Hilyatul auliya’ (III/16)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: