Cinta, Tak Sebatas Asmara

STUDIA Edisi 230/Tahun ke-6 (7 Februari 2005)
Seandainya di bulan Februari nggak ada tanggal merah jambu, mungkin temen-temen kita nggak pada sibuk berburu pernak-pernik bernuansa cinta. Bagi para pelaku bisnis, tanggal merah jambu ini identik dengan tambang uang. Dalam nuansa penuh warna pink di pusat-pusat perbelanjaan juga disemarakkan balon warna-warni berbentuk hati, semua produk berlabel love alias cinta pun banyak dicari.

Berbagai produk ditawarkan. Mulai dari kartu ucapan, cokelat dengan bentuk dan kemasan yang bervariasi, bunga, boneka, bantal, aneka baju berwarna pink, pernak-pernik (semacam cardigan, bando, ikat rambut, jepit rambut), hingga buku dan CD. Udah gitu pake diskon lagi. Gimana konsumen nggak pada ngiler. Tinggal pilih, cocok, bayar.

Hari kasih sayang yang setiap tahun jatuh pada tanggal 14 Februari ini lho yang kita sebut tanggal merah jambu itu. Dunia mengenalnya, Valentine Days (VD). Hari gini, kita bisa tergolong remaja ku’in (pinjem istilah Mbak November Rain di sebuah milis) alias kurang informasi kalo nggak kenal VD. Momen yang udah pasti nggak akan lewat dari pengamatan remaja sejagat raya. Bagi mereka, maknanya begitu spesial. Sehingga kian bejibun remaja-remaji yang ikut berpartisipasi dalam merayakannya dari tahun ke tahun.

Penulis sempet survey ke lapangan perihal perayaan VD ini di mata remaja. Sebut saja Vika dan Yuli ( siswi kelas 3 SMUN 3 Bogor ) serta Valentiana ( siswi kelas 2 SMP PGRI 1 Bogor ), biasanya mereka saling ngasih ucapan baik secara langsung, via kartu, SMS, atau EMS yang pasti melankolis abis. Ada juga acara tuker kado antar temen cewek dan nggak ketinggalan cium pipi kiri-kanan. Atau makan bareng di café atau rumah teman. Kalo pendapat Fajar ( Siswa kelas 2, SMU Taruna Andika ) laen lagi. Doi bilang, temen-temennya suka jalan-jalan bareng pacar. Malah ada yang sampe booking di hotel dan ML. Waduh!

Sobat, makin syerem aja ya ekspresi cinta remaja di bawah bendera Valentine Days. Padahal dari hasil survey penulis, nggak semua remaja tahu banget asal-usul VD itu sendiri. Paling-paling tahu artinya hari kasih sayang doang. Nggak lebih. Walau mereka aktif merayakannya setiap tahun. Emang sih, kebanyakan ikut-kutan ajakan temen atau terprovokasi oleh media massa. Tapi tetep aja menikmati. Hayoo ngaku aja! Nah, biar kita-kita nggak tergolong anggota PKI alias Pemuda (i) Kurang Informasi, ada baiknya kita tengok sekilas sejarah VD. Yuk?

Sekilas sejarah VD

Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah kisah Pendeta St. Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St. Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya. Claudius II melihat St. Valentine mengajak manusia kepada agama Nashrani lalu dia memerintahkan untuk menangkapnya.

Dalam versi kedua , Claudius II  memandang para bujangan lebih tabah dalam berperang daripada mereka yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang. Maka dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan. Tetapi St. Valentine menentang perintah ini dan terus mengadakan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui lalu dipenjarakan. Dalam penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan “ Dari yang tulus cintanya, Valentine .” Hal itu terjadi setelah anak tersebut memeluk agama Nashrani bersama 46 kerabatnya.

V ersi ketiga menyebutkan ketika agama Nashrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu berkumpul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut, dan gadis yang namanya keluar  akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan “ dengan nama tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini .”

Akibat sulitnya menghilangkan tradisi Romawi ini, para pendeta memutuskan mengganti kalimat “ dengan nama tuhan Ibu ” dengan kalimat “ dengan nama Pendeta Valentine ” sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nashrani.

Sobat, dengan informasi tentang sejarah VD di atas, semoga kamu makin haqul yakin kalo VD adalah budaya non Islam. Bukan cuma sekedar seremonial biasa. Jadi, seperti pendapat Ismail ( salah satu alumnus SMU Bina Sejahtera ), “Nggak baek ngikutin perayaan agama laen kayak Valentine Days. Sekedar tahu sih boleh aja.” Nah, biar nggak kejerumus. Hindari ya? Akur kan? Pasti dong! Sip deh!

Cinta kita begitu luas

Sobat muda muslim, mendengar obrolan remaja tentang cinta, sepertinya makna cinta itu makin menyempit. Sesempit ruang bernapas dalam KRL Jakarta-Bogor kelas ekonomi di pagi hari. Maknanya nggak jauh dari cerita indah yang menghiasi keseharian Kenshin Himura dan Kori dalam Samurai-X. Selalu diartikan kasih asmara antar lawan jenis. Padahal Allah swt. menciptakan rasa ini dalam diri manusia nggak cuma dalam rangka memadu kasih dua insan yang tengah kasmaran. Bisa juga berupa kecintaan seorang bapak kepada anak dan istrinya, cinta kita pada orang tua dan keluarga, atau kepada saudara seakidah.

Seorang bapak, nggak kenal lelah untuk mencari nafkah sebagai ekspresi cintanya pada keluarga. Sekecil apapun kesempatan yang Allah berikan untuk menghidupi keluarganya, akan dia kejar meski harus membanting tulang dan bermandi keringat. Baginya, jadi pedagang asongan, petugas parkir, atau tukang bakso keliling dengan penghasilan minim lebih mulia dan terhormat dibanding seorang pencopet, maling, atau penjudi.

Cinta kita pada orang tua sudah seharusnya membuat kita belajar untuk mandiri berbakti kepadanya. Menginvestasikan setiap pemberian mereka dalam ilmu yang bermanfaat dan kedewasaan dalam besikap dan berbuat. Sebab someday , kita pun akan jadi orang tua yang mengurus keluarga sendiri dan juga mereka yang telah renta.

Cinta kepada saudara seakidah akan menghancurkan tembok sekolah, rumah, suku, atau negara, yang menyekat kita. Rela mengorbankan harta, tenaga, waktu, pikiran, atau apapun yang dimiliki sesuai kemampuan untuk saudaranya. Dalam hadis Mutafaq ‘alaih dari Anas dari Nabi saw. ia bersabda:

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Dan yang terakhir adalah kecintaan kita kepada Allah dan RasulNya. Menurut al-Zujaj: “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridho terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw”. Sehingga seorang hamba akan bersegera memenuhi seruan-Nya. Meski harus ditukar dengan cintanya pada anak-istri, keluarga, atau harta benda (lihat QS at-Taubah [9]: 24)

Nah sobat, inilah makna cinta bagi seorang muslim. Begitu universal dan luas. Saking luasnya nggak perlu dibatasi dengan hari khusus macam VD. Atau diekspresikan dengan pacaran dan gaul bebas yang malah menempatkan cinta itu sendiri atas nama nafsu syahwat. Kita bisa mencintai sepanjang hari selama hidup kita dan tidak terbatas cuma kepada lawan jenis aja. Karena itu, cintailah cinta dari sang Pemberi Cinta.

Serangan budaya di depan kita

Sobat muda muslim, di era globalisasi kayak sekarang, emang nggak gampang menghindari serangan budaya sekular barat. Dunia begitu sempit. Sementara jangkauan pengaruh budaya itu malah makin meluas dengan bantuan kecanggihan teknologi. Di dunia cyber maupun di dunia nyata, arus budaya itu keluar masuk nggak pake karcis dan bebas menyapa remaja. Kondisi ini diperparah oleh kampanye ‘selamatkan remaja dari status jomblo’ melalui tayangan sinetron atau reality show yang bertemakan cinta remaja. Pada akhirnya, kian banyak remaja yang tergoda untuk ikut-ikutan gaul bebas dan menodai cintanya dengan lumuran hawa nafsu. Ancur dah! Lantas musti gimana dong?

Nggak usah bingung. Kalo kita nggak bisa menghindari, bukan berarti kita nggak bisa membangun benteng dalam diri kita. Caranya, perkuat akidah kita biar nggak latah ngikut budaya rusak itu karena diajak temen atau terprovokasi oleh media massa. Itu sebabnya, kita wajib nyadar kalo perilaku kita di dunia nggak akan lolos dari pengamatanNya, juga dari catatan Malaikat Raqib dan ‘Atid yang setia sampai mati mendampingi kita. Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Isrâ [17]: 36)

Untuk urusan cinta, Islam udah ngatur ekspresinya biar nggak ketuker dengan ayam jago yang maen sosor aja kalo udah kebelet. Nggak ada tuh, yang namanya pacaran, HTS (Hubungan Tanpa Sex), ataupun pacaran islami. Yang ada dalam Islam adalah mekanisme khitbah dan nikah untuk penyaluran hasrat mencintai lawan jenis. Dan perlu dicatet, mekanisme ini bukanlah pilihan, tapi kewajiban. Allah Swt. berfirman:

”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS al-Ahzab [33]: 36)

Selain itu, kita juga kudu berani berkata ‘tiiidaaak..!’ pada ajakan teman untuk bermaksiat kepadaNya. Seperti berpartisipasi dalam perayaan VD, tahun baru, April Mop , dugem, atau gaul bebas dengan lawan jenis. Ngapain juga kita kudu ngikut ajakan dia? Demi nilai persahabatan? Huh, gombal! Seorang sahabat yang baik dan benar (kayak EYD aja), pasti ngajak kita untuk taat, bukan untuk bermaksiat. Catet ya…

Oke deh sobat, kita bukan anak kecil lagi yang gampang latah ngikutin temennya yang ngajak nggak bener. Kita udah cukup dewasa untuk menjadikan hidup ini lebih berarti. Sebab hidup nggak cuma sekali. Ada kehidupan ke dua di akhirat nanti. Dan belajar terus tentang Islam menjadi pilihan terbaik dalam mengisi masa muda kita. Jadi, tunggu apa lagi, ikut ngaji nyok? Nyook…! Kita tunggu lho… Siap kan? Tetap semangat! [hafidz]

http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/cinta-tak-sebatas-asmara.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: