Qur’an Bukan Untuk Dimuseumkan

(Sabili.co.id.)Santri, merupakan bibit ungul calon ulama. Di manapun mereka belajar, di pondok apa pun mereka nyantri, ketulusan, keikhlasan, kesederhanaan dan kesungguhan adalah modal utama mereka. Sayangnya, modal besar ini, tidak didukung dengan arah, tujuan dan perangkat baik. Seandainya semuanya mampu dirangkai dengan baik, bak “jalan tol kurikulum sempurna akan menghantar mereka menjadi ulama-ulama kelas dunia, sebagaimana pernah muncul peda era keemasan peradaban Islam.

Demikian juga dengan mahasiswa UIN, IAIN atau STAIN di kampus mana pun di pelosok negeri. Mereka adalah calon intelektual dan cendekiawan Muslim yang seharusnya menjelma menjadi ulama, sebagaimana harapan orang tua dan tujuan didirikannya kampus-kampus itu. Sistem dan kurikulum di perguruan tinggi Islam ini, telah menghantarkan mereka menjadi insan yang mampu berpikir ilmiah dan sistematis, mampu menganalisis dan mentransformasikan ilmu pengetahuan.

Jika kemudian lulusan kampus-kampus Islam ini tidak menjadi ulama, bahkan pemikirannya berbalik 180 derajat, di mana salahnya? ”Lulusan kampus-kampus Islam memang mampu berpikir ilmiah untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, tapi basic dari ilmu dan peradaban Islam yakni, al Qur’an, hadits, bahasa Arab dengan nahwu, sharaf dan balaghah-nya, serta Ushul Fiqh mereka sangat lemah. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang empat hal ini, hampalah ilmu mereka,” terang Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, Lc MA, Direktur Perguruan Islam al-Mughni, Kuningan, Jakarta.

Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, Lc MA, Direktur Perguruan Islam al-Mughni, Kuningan, Jakarta.

Menurut pakar hadits ini, hal yang sebaliknya juga terjadi pada sebagian besar lulusan pesantren di Indonesia. Lulusan pesantren umumnya hafal al Qur’an dan sebagian hadits, jago bahasa Arab dengan nahwu, sharaf dan balaghah-nya, serta memahami fiqih, tapi mereka umumnya tidak mampu berpikir ilmiah dan sistematis, sehingga tidak bisa melakukan transformasi ilmu pengetahuan yang kian cepat perkembangannya.

Padahal, hanya dengan menguasai ilmu pengetahuan yang berbasis al Qur’an, sunnah dan mengikuti metode para ulama salaf, peradaban Islam akan bangkit. ”Tanpa menerapkan metode ini, bangkitnya peradaban Islam hanya menjadi mimpi di siang bolong,” tegasnya. Karenanya, kepada Dwi Hardianto, Ganna Pryadharizal dan Arief Kamaluddin dari Sabili, cucu Abdul Mughni bin Sanusi bin Ayyub bin Qays, yang dikenal dengan sebutan Guru Mughni Kuningan ini, menyodorkan beberapa solusi untuk menjembatani missing link ini. berikut petikannya:

Apa korelasi antara membangun peradaban dengan al Qur’an dan Hadits?

Sekarang ini, umat Islam menyangka bisa pintar jika belajar di kampus. Padahal, Ibnu Khaldun, Ibnu Zina, al Ghazali dan semua tokoh-tokoh, ulama, cendekiawan dan ilmuwan Islam bukan keluaran kampus. Mereka adalah keluaran Madrasatul Qur’an (didikan al Quran). Jadi, jika umat Islam sekarang ini ingin maju, bahkan melebihi pencapaian para ulama dulu itu, kita harus mengimbanginya, antara pemahaman tentang al Qur’an dan hadits dengan kemampuan untuk berpikir dan mentransformasikan ilmu pengetahuan. Bagi yang menempuh pendidikan di kampus sesuai bidangnya, harus masuk ke Madrasatul Qur’an.

Kenapa madrasatul Qur’an? Saya dua kali ikut Tim Tafsir Tematik di bawah koordinasi Departemen Agama. Terakhir, membahas soal ekonomi. Ternyata al Qur’an memberikan pedoman tentang ekonomi dengan cara pandang dan perspektif yang luar biasa. Mulai zaman Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw, prinsip ekonomi yang dianut al Qur’an sangat sempurna. Jika konsep ini kita terapkan, kita tidak akan menjadi bangsa konsumtif saja, tapi akan menjadi bangsa produsen. Sekalipun manusia tetap memiliki unsur konsumtif, tapi kita juga berperan sebagai produsen.

Sebagai sumber inspirasi, termasuk dalam mengelola ekonomi, kenapa al Qur’an cenderung diabaikan?

Jika Qur’an sudah masuk museum

Salahnya terletak pada pendekatan. Umumnya, umat Islam Indonesia berinteraksi dengan al Qur’an sebatas membaca untuk mendapatkan pahala. Yang dibaca juga surat tertentu, misalnya Yasin. Bukan berarti kita tidak boleh membaca Yasin, tapi apakah al Qur’an hanya surat Yasin saja. Padahal, al Qur’an diturunkan bukan hanya sebagai alat untuk menjaring pahala. Al Qur’an juga memiliki fungsi lain yang dilupakan umat Islam seperti, sebagai hudan (petunjuk), bayân (penjelas), tazkirah (pengingat) dan zikrâ (zikir).

Cara memperbaikinya?

Saya berusaha memperbaiki dengan kapasitas yang sangat terbatas. Dalam buku saya tentang al Qur’an, terdapat diagram keutamaan al Qur’an, mulai dari ayat dan surat tertentu. Jika kita ambil satu saja, akan mengubah cara pandang kita. Misalnya, khairukum man ta ’alamal Qur’an wa ’allamahu (sebaik-baiknya kalian adalah orang yang mempelajari al Quran dan mengajarkannya). Jika antum mau jago komputer, ada kitab standar tentang komputer, word, excel dan lainnya. Mau belajar kedokteran juga ada kitab-kitab standarnya. Masing-masing disiplin ilmu ada kitab standarnya. Jika sudah membaca, mempelajari dan mempraktikkannya, orang menjadi jago dalam bidang itu.

Hadits tadi menyebut ta’alama (belajar) dan bukan qara’a (membaca). Terus, al Qur’an itu standar ilmu ekonomi atau ilmu kehidupan? Ilmu kehidupan kan? Berarti, orang yang menguasai al Qur’an akan menguasai kehidupan di dunia dan akhirat. Karenanya, orang yang menguasai al Qur’an akan menjadi pemain yang paling jago dalam kehidupan ini. Selanjutnya, khairukum dan bukan khairun, berarti dalam hal ini ada dua fase yakni, ada khair (baik) dan khairukum (terbaik).

Yang baik adalah mereka yang hanya belajar al Qur’an saja, tapi tidak wa ’allamahu. Sedangkan yang terbaik adalah yang mengkaji al Qur’an dan melakukan transformasi ilmu untuk mengatasi semua problem kehidupan di dunia dan akhirat. Jika ini dijalankan, tidak ada umat manusia yang salah dalam meniti kehidupan.

Apakah setiap Muslim harus sampai pada tahap ini?

Rasulullah saw menyuruh kita menjadi yang terbaik, bukan hanya baik. Al mukminul qawiyu khairun wa ahabbu ilallah minal mu’min adh dha’if. Ketika ada dua Mukmin yang kuat dan lemah, Rasul saw menyuruh kita menjadi Mukmin yang kuat. Sekalipun tidak setiap orang bisa meraih taraf yang terkuat, karena selalu ada yang gagal. Ini tidak masalah, asal dalam koridor Mukmin. Begitu juga dengan khairukum. Umat Islam diperintahkan sampai pada puncak pencapaian ilmu dan peradaban tertinggi. Jika tidak sampai, ya sudah, belajar saja tanpa harus mengajarkan pada yang lain. Jika diterapkan dalam kehidupan, sungguh luar biasa, karena al Qur’an itu sumber ilmu.

Jika ditarik ke hadits?

Kondisinya lebih memprihatinkan. Umat Islam paham bahwa kita harus berpegang pada al Qur’an dan hadits. Umat Islam juga memiliki mushaf al Qur’an di rumah, tapi tidak memiliki kitab-kitab hadits. Orang Betawi kan senang Maulid Nabi saw dan mengklaim sebagai pecinta Nabi. Ini bagus. Tapi ketika tidak punya satu pun kitab hadits, mau dibilang cinta gimana? Ketika mau uswatun khasanah, bagaimana cara nabi shalat, perilakunya, berpakaiannya dan lainnya? Semuanya ada di hadits. Jika tak mengerti dan tak punya kitab hadits, gimana mau uswatun khasanah?

Celakanya, di Indonesia juga tidak ada pusat studi dan kajian hadits. Ada Baitul Qur’an, tapi karena dijadikan museum, banyak ulama yang tidak setuju, karena al Qur’an bukan untuk dimuseumkan. Karenanya, beberapa ulama pun membentuk Pusat Studi dan Kajian al Qur’an. Alhamdulillah, 17 Mei mendatang, akan diresmikan Pusat Kajian Hadits di Perguruan al-Mughni, sebagai Pusat Studi dan Kajian Hadits pertama di Indonesia.

Umat Islam Indonesia masih awam terhadap al Qur’an dan hadits, bagaimana mungkin kebangkitan Islam diawali dari Indonesia?

Yang saya sayangkan, di negeri ini banyak lembaga dan pesantren tahfizh al Qur’an. Tapi mereka menganggap, jika sudah menghafal al Qur’an sudah mencapai puncak, merasa paling pintar dan minta dicium tangannya. Berbeda dengan ulama-ulama dulu, menempatkan al Qur’an dan hadits sebagai dasar atau pondasi dari ilmu pengetahuan yang akan menopang peradaban. Mereka menghafal al Qur’an sejak usia 5–10 tahun, karena al Qur’an menjadi basic untuk mempelajari ilmu selanjutnya. Di sini, bukan berarti saya tidak menghormati orang yang menghafal al Qur’an, tetap harus kita hormati.

Metode dan kurikulum kita salah dalam menempatkan hafalan al Qur’an sebagai puncak pencapaian, tanpa penggalian dan transformasi. Akibatnya, lembaga dan pesantren tahfizh al Qur’an tidak menghasilkan mufassir, hanya lulusan yang hafal al Qur’an. Seharusnya, metode ini dilanjutkan dengan penggalian dan transformasi ilmu pengetahuan sehingga menghasilkan para faqih (ahli fiqih), muhadits (ahli hadits), mufasir (ahli tafsir) atau mutakalim (ahli ilmu kalam). Pilihan disiplin ilmunya, terserah para santri, mau ke mana, kita tidak bisa memaksa. Jika begini kondisinya, baru ok.

Sementara, perguruan tinggi Islam bisa menghasilkan pemikir, tapi pemahamannya terhadap al Qur’an dan hadits masih dangkal?

Betul. Cendekiawan produk perguruan tinggi Islam bisa berpikir untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan tapi al Qur’an dan haditsnya lupa, karena tidak hafal. Sedangkan yang lulusan pesantren atau lembaga tahfizh al Qur’an hafal beberapa juz al Qur’an dan hadits, tapi tidak bisa berpikir sistematis untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan.

Ada missing link ustadz?

Iya, ada kesalahan di sini. Tapi, saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Yang penting adalah upaya perbaikan.

Cara perbaikannya?

Di beberapa tempat ada upaya perbaikan tapi skalanya masih kecil. Sistem TKIT, SDIT, SMPIT dan SMAIT adalah bagian dari perbaikan. Demikian juga dengan SDIT dan SMPIT al-Mughni yang saya kelola. Untuk SD tiap tahun siswanya harus menghafal al Qur’an satu juz. Lulus SD, minimal hafal 6 juz. Untuk SMP, harus menghafal 3 juz. Jika lulus, berarti hafal 9 juz. Jika ada siswa yang tidak memenuhi target, tidak masalah, karena di mana-mana juga ada, asal kita terus melakukan pembelajaran pada siswa itu.

Jangankan 9 juz, hafal 5 juz saja, pencapaian ini sudah lebih tinggi dibanding lulusan IAIN. Di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta misalnya, Jurusan Ushuludin hanya wajib menghafal 1 juz. Jurusan lain seperti Syariah, Tarbiyah, Adab sama sekali tidak diwajibkan. Saya mengajar di tiga perguruan tinggi Islam untuk pasca sarjana dan empat kampus untuk S1 di luar UIN Jakarta. Dalam satu semester, mahasiswa, saya wajibkan membuat buku. Makalah hanya pengantar atau jalan menuju terbentuknya buku di akhir semester.

Ketika mereka tidak bisa mengetik bahasa Arab, untuk hadits atau ayat al Qur’an, tetap saya paksa. Mereka saya wajibkan mengetik sendiri. Dalam sepekan harus setor laporan dalam bahasa Arab, minimal lima halaman. Banyak mahasiswa yang mengeluh, dalam tiga malam hanya dapat satu lembar. Tapi terus saya paksa agar terbiasa. Saya persilakan mereka untuk latihan komputer di Laboraturium Peguruan Al-Mughni tiap Sabtu sore. Di sini, yang mengajari mereka menulis teks Arab adalah siswa kelas 5 SDIT Al-Mughni.

Kenapa bisa begini ustadz?

Karena ada yang salah dari kurikulum di perguruan tinggi kita. UIN Syarif Hidayatullah sebagai perguruan tinggi Islam terbaik di Indonesia masih banyak kekurangannya. Pencapaian mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi Islam di Indonesia, sederajat dengan siswa kelas 5 SDIT. Karenanya, terkait membangun peradaban, yang harus diperbaiki terlebih dahulu adalah sistem pendidikan yang berbasis al Qur’an, sunnah dan mengikuti metode yang ditempuh para ulama salaf jaman dulu. Misalnya, Imam Syafi’i, hafal al Qur’an pada usia 10 tahun, pada usia 15 tahun sudah diperkenankan mengeluarkan fatwa. Berarti, pada usia 15 tahun, keilmuwan Imam Syafi’i sudah matang. Tanpa memperbaiki sistem pendidikan peradaban Islam yang kita dambakan, hanya impian kosong saja.

Untuk mempercepat kematangan seseorang apa yang harus ditempuh?

Bisa ditempuh dengan menulis. Ketika orang menulis, ia harus membaca banyak literatur, tidak mungkin menulis tanpa membaca. Kedua, dengan menulis akan belajar bertanggung jawab terhadap karyanya, sehingga siap untuk diskusi jika ada yang mengkritik. Saya menulis buku berjudul Jalan Santri Menjadi Ulama dan Selangkah Lagi Mahasiswa UIN Menjadi Kiai. Pada kedua buku ini, salah satu solusi yang saya tawarkan agar santri dan mahasiswa bisa menjadi ulama, harus menulis buku. Metode ini saya terapkan di Perguruan Al-Mughni. Siswa kelas 3–4 SDIT, saya ajarkan menulis berbagai jenis tulisan. Ketika, kelas 6, tugas akhir tiap siswa menulis buku. Temanya kita bebaskan, sesuai bidang yang disukainya. Ketika masuk SMPIT, kebiasaan menulis terus dipacu, sehingga setiap semester harus menghasilkan satu buku. Jadi, selama 3 tahun di SMPIT Al-Mughni, setiap siswa minimal menghasilkan enam buku.

Bagaimana cara menerapkan konsep ini ke dalam sistem pendidikan kita?

Konsepnya sederhana yakni, hafalan dan pengertian. Saya menerapkan hafalan sejak usia SD. Sejak kelas 1–6 SD, siswa dipacu untuk menghafal al Qur’an dan al-hadits. Pada usia ini, anak sulit diajarkan tafsir dan pengertian, karenanya dipacu untuk menghafal. Anak usia SMP, sejak kelas 1–3, belajar tafsir al Qur’an dan hadits, sekaligus mengulang pencapaian hafalan yang sudah diperoleh saat SD. Jadi, siswa SMP dipacu belajar tafsir dan pengertian, sedangkan hafalan dinomor duakan.

Tahun 2007 lalu saya menjadi juri lomba menghafal hadits tingkat nasional. Untuk tingkat Tsanawiyah (SMP) diusulkan, peserta menghafal 40 hadits Arba’in Nawawi. Saya protes. Disekolah saya, anak SD, bukan pesantren, bukan ibtidaiyah, siswanya rata-rata hafal 100 hadits, masa yang dari pesantren hanya hafal 40 hadits. Saya ingin mengubah dan melakukan up grading kurikulum. Menghafal 40 hadits Arba’in Nawawi adalah jatah anak SD dan Ibtidaiyah. Yang Tsanawiyah harus menghafal seratus, dua ratus, lima ratus atau minimal 100 hadits.

Untuk tingkat SMA dan perguruan tinggi, konsepnya bagaimana?

Untuk SMA, mulai belajar menafsirkan al Qur’an, hadits dan kitab-kitab karya para ulama. Kedua, anak usia SMA seharusnya sudah bisa menulis karya yang berbobot. Jadi, pengembangan konsep dan berpikir dimulai sejak SMA. Jika tahapan ini berjalan, di perguruan tinggi, dengan sendirinya mahasiswa lebih bisa mengembangkan diri, keilmuwan dan kepakarannya. Yang terjadi saat ini sangat jauh. Apa yang seharusnya diajarkan di tingkat SMP, baru diajarkan ketika di perguruan tinggi. Memang, dalam bidang tertentu anak-anak SD dan SMP diajari oleh mahasiswa. Tapi ini mengindikasikan, ada yang kurang pada kurikulum pendidikan tinggi Islam di negeri ini.

Bisa tidak konsep ini diterapkan secara nasional, minimal di sekolah Islam dan pesantren?

Sulit. Pembenahan kurikulum secara nasional harus melalui Depag dan Diknas. Kecuali jadi menteri dulu kemungkinan baru bisa, ha, ha, ha. Paling tidak, kita mulai dari komunitas, lama kelamaan, apalagi jika output-nya kredibel pasti akan banyak yang meniru.

Jika diterapkan secara nasional, umat Islam Indonesia akan berubah dalam berapa tahun?

Satu generasi saya kira. Jika kita memulai pada usia SD atau SMP pada tahun 2007 misalnya, tinggal dihitung. Mereka mulai memimpin masyarakat kira-kira tahun berapa?

Rasul dan sahabat membangun peradaban begitu ekspansif, kenapa?

Rasul dan sahabat secara basic tidak terkendala dengan al Qur’an dan hadits. Mereka paham dan mengamalkan al Qur’an serta hadits. Sedangkan kita hanya bisa membaca, tidak mengerti dan hanya sedikit mengamalkan.

Jadi yang membedakan antara generasi dahulu dengan sekarang adalah amalnya?

Iya, amalnya. Karenanya, orang sering bilang, Islam ada di Eropa tapi orang Muslim tidak ada di Eropa.

Kenapa begitu?

Karena mereka mengamalkan Islam dalam konsep yang sedikit rendah. Contoh, Ramadhan lalu saya diundang ke London untuk ceramah. Usai ceramah ada yang bertanya, ”Ustadz lebih enak di Jakarta dong, gampang masuk surga daripada di London karena pergaulan bebas dan minuman keras ada di sekitar kita? Apa iya begitu? Hasil renungan saya, buat Muslim ternyata lebih gampang masuk surga dari London daripada Jakarta.

Kenapa? Karena di London, kita tidak pernah berbuat zalim pada orang lain. Pada diri kita, mungkin berbuat zalim. Tapi di Jakarta, kita berbuat zalim pada diri sendiri dan orang lain. Sedangkan dosa pada orang lain sulit mendapat ampunan Allah, karena harus minta maaf lebih dulu pada orang yang kita zalimi, baru Allah akan mengampuni. Dosa pada diri sendiri, tinggal minta ampun sama Allah. Di London, kita tidak pernah menzalimi orang lain? Karena semuanya teratur, klakson nggak pernah bunyi, nggak ada yang saling serobot, menyebrang sembarangan dan lainnya. Di Jakarta semrawut.

Kenapa London bisa begitu? Pemerintah memasang lebih dari 10 ribu kamera CCTV di jalan dan tempat umum. Begitu melanggar lampu merah misalnya, tiga hari berikutnya datang surat tagihan denda ke rumah. Di Jakarta ada nggak konsep ini? Ada ustadz, yakni Malaikat Rakib dan Atib. Seharusnya, kita lebih taat pada aturan, karena ada yang mengawasi kita di mana pun berada 24 jam penuh. Apalagi, kita memiliki konsep lâ dharara wa lâ dhirâr (jangan membahayakan orang lain dan jangan membahayakan diri sendiri), bukankah ini ajaran yang Maha Sempurna.

author; unknown

sumber;

Catatan group fb: Satu Hari, Satu Ayat Qur’an

http://www.eramuslim.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: