“Jika Seorang Bali Hindu Menjadi Muslim”

Di tempat usaha kami, bengkel mobil, ada 25 karyawan yang bekerja membantu kami dengan empat cabang yang kami sebar di wilayah Denpasar, Nusa Dua, dan Ubud. Walau kecil-kecilan, Alhamdulillah dapat menjadikan kami produktif dan setidaknya mampu membuka lowongan pekerjaan bagi tenaga kerja.

Salah seorang karyawan kami ada seorang karyawan muallaf , namanya sebut saja Firman. Ia orang asli Bali Hindu. Asalnya dari Karangasem. Menikah dengan istrinya seorang muslimah Jember, Jawa Timur.

Begitu menikah, pak Firman langsung memeluk Islam dan meninggalkan agama nenek moyangnya.
Ada beberapa keistimewaan pada diri Pak Firman yang menurut kami sangatlah menakjubkan buat kami, yang tidak kami dapati dari muallaf lainnya dengan latar belakang Bali Hindu.

Dari beberapa cerita teman-teman kami dan juga fakta di lapangan yang kami lihat, banyak juga ternyata seorang pria pemeluk Bali Hindu yang memeluk Islam karena menikah dengan wanita muslimah, entah dari Lombok atau Jawa. Tapi karena adanya system waris bagi anak laki-laki Hindu lebih besar daripada anak perempuan, maka sangatlah berat bagi seorang anak laki-laki bali Hindu untuk meninggalkan agama Hindu dan menikah dengan muslimah dan taat pada Islam.

Di Bali, sangatlah kental system patrilianisme ( hubungan darah dan kekerabatan). Anak laki-laki sangat mahal harganya dibandingkan anak perempuan. Harta warisannya lebih banyak berlipat-lipat. Jika anak laki-laki memeluk agama selain Hindu maka ia akan keluar dari desa adat dan keluarganya, dikeluarkan dari daftar penerima warisan orangtua, artinya harus siap-siap menjadi miskin jika memeluk Islam.

Tapi, hal ini dilakukan oleh Pak Firman. Usianya masih muda, sekitar 30-an. Tetapi, semangat untuk mempelajari Islam sangat kuat. Bayangkan, sebelum menikah, beliau sudah hafal Al Fatihah dan Ayat Kursi, serta surat-surat pendek lainnya, macam Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. Dan yang saya kagumi lagi dari Pak Firman, selain itu orangnya jujur dan tidak banyak bicara saat bekerja maupun saat bergaul. Pekerjaan dilakukan semua dengan prinsip hati-hati dan cepat.

Dan jangan ditanya Shalat nya dan Puasa nya, Subhanallah, bahkan melebihi kawan-kawannya yang sudah memeluk Islam karena keturunan. Di Bulan Ramadhan, tadinya banyak karyawan kami yang tidak berpuasa dengan alasan pekerjaan seorang mekanik sangat berat dan panas. Akan tetapi, Alhamdulillah setelah kami berikan pencerahan dan bukti bahwa puasa seharusnya tidak menghalangi mereka bekerja, sekarang 100% karyawan kami muslim, berpuasa semua di Bulan Ramadhan. Bukti yang kami maksud adalah Pak Firman itu. Dia katakan, di Hindu dulu juga ada puasa, kalau tidak puasa maka sanksinya berat. Semacam denda yang harus dibayar pada desa / pemangku. Dan begitu memeluk Islam,dia bertambah yakin, puasa ramadhan adalah dalam rangka mencari keridhoan Allah dan berkah Allah, bukan karena takut dari desa adat. Berkahnya dari Allah kata dia, melebihi dari ada yang dia alami sebelumnya saat masih hindu.

Shalat 5 waktunya pun ia memilih berjama’ah di masjid setiap harinya. Makanya, setiap dhuhur dan ashar, ia selalu mengajak kawan-kawannya bengkel berjama’ah di masjid. Alhamdulillah, memang harus ada contoh dari kalangan mereka sendiri yang baik untuk dicontoh.

Saya jadi teringat firman Allah SWT : Al-Baqarah (2) : 268

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاء وَاللّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

arti: ” Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia . Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.”

Di ayat ini, maka saya melihat contoh bahwa Pak Firman tidak takut miskin dengan menjadi muallaf, ia dobrak kepercayaan kuno dalam hatinya, ia berpendapat, bahwa orang jadi miskin adalah karena tidak mau bekerja / berusaha, bukan karena meninggalkan kepercayaan lamanya. Maka Allah pun memberikan ganti berupa ampunan dan karunia yang besar pada diri Pak Firman.

Sungguh, kami jadi terharu, betapa melihat pengorbanan yang besar dari seorang Pak Firman dalam rangka mencari Allah sebenarnya dan karunia Allah yang besar.

Dan pernah kami juga memiliki pemikiran aneh dan doa aneh kepada Allah, yang mungkin sebagian pembaca akan memprotes kami, ya walau ini salah, hanya Allah yang mengampuni,

Seandainya seluruh warga Bali menjadi pemeluk Islam, tentunya ketaatan mereka akan melebihi kita sebagai pemeluk Islam keturunan, dengan bercermin dari kisah Pak Firman ini. Boleh jadi Bali akan menjadi basis Islam di Nusantara. Lihat saja saat mereka berangkat ke pura atau ada upacara, betapa semangat menyama braya (gotong royong) mereka sangat kuat dan khusyu’. Mereka sangat patuh pada aturan adat dan agama mereka. Upacara mereka yang biayanya menelan ratusan ribu (1x upacara) bahkan hingga jutaan rupiah , mereka jalankan dengan ikhlas dan taat.

Islam tidak mengenal biaya dalam beribadah, semua tanpa biaya. Andai saja mereka tahu, bahwa Islam adalah kebenaran, tentu mereka akan tambah lebih makmur, karena uang untuk upacara hingga jutaan dapat menjadikan pemberdayaan umat yang lebih produktif dan sejahtera.

Ya Allah, seandainya mereka muslim, pasti Bali jadi lebih makmur dan aman tentram, menjadi negeri madani seperti Madinah di saat Rasulullah SAW memimpin…

Subhanalloh,Ya Allah Ampuni doa kami yang aneh ini ..

Wallahu alam bi shawab..

author; unknown

sumber;

Catatan group fb: Satu Hari, Satu Ayat Qur’an

http://www.eramuslim.com

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: